Selamat Datang

... di situs resmi Kongregasi Bruder St. Aloysius

Kapitel Umum 2010

Wujud kebersamaan penegasan Roh dalam kongregasi.

Perayaan Syukur 150 thn CSA di Indonesia

Perayaan Jubileum 150 thn CSA di Indonesia bersama Uskup Semarang.

Rekreasi ke Pulau Komodo

Gembira bersama dalam semangat persaudaraan, kasih dan damai.

Workshop bersama para bruder se-NTT

Wujud pembinaan yang berkelanjutan bagi para bruder di tempat karya.

Jubileum 150 thn CSA di Indonesia

Mengenang awal kehadiran Bruder CSA di Indonesia pada tahun 1862.

Evaluasi bersama akhir tahun

Pencarian bersama kehendak Roh Kudus dalam hidup dan karya para Bruder CSA.

Perayaan syukur hidup membiara

Syukur atas rahmat kegembiraan, persaudaraan, dan kesetiaan dalam hidup membiara.

Kapitel 2020

Identitas dan Misi Bruder CSA Mewujudkan Pelayanan Profesional

Kamis, 25 November 2021

Refleksi Generasi Muda CSA tentang Kemandirian CSA itu Indah

 

KEINDAHAN DALAM CSA

(Br. Alfonzsh R. Banase, CSA)

(Tulisan berikut merupakan sebuah refleksi sederhana menyambut kemandirian CSA di Indonesia)

PROLOG

Dalama Kamus Besara Bahasa Indonesia, kemandirian diartikan dengan hal atau keadaan seseorang dapat berdiri sendiri atau tidak bergantung kepada orang orang lain. Artinya bahwa kemandirian adalah kesiapan dan kemampuan individu untuk berdiri sendiri yang ditandai dengan menentukan nasib sendiri, kreatif, inisiatif, mengatur tingkah laku, bertanggung jawab dan mampu menahan diri.

Merefleksikan kembali perjalanan kemandirian CSA di Indonesia ini bukanlah barang jadi atau sesuatu yang ada dengan sendirinya, tetapi merupakan hasil dari proses yang panjang dengan melewati berbagai persoalan. Bahkan dalam proses perencanaan awal kemandirian saja sudah mengalami penolakan secara halus. Hal ini disampaikan oleh Br. Theo Sponselee dalam kunjungannya ke Indonesia pada tahun 1986 dengan membawa pesan yang hanya sebagai suatu gagasan, tetapi mengakibatkan suatu kehebohan besar. Salah seorang bruder Indonesia menyatakan perasaannya dengan suatu metafora: ‘seekor ayam tidak pernah akan melepaskan anak-anaknya’. Seorang bruder lain menyatakan rasa pahitnya dengan  kata-kata: ‘dewan umum Belanda lebih suka melepaskan kekuasaannya atas bruder Indonesia, daripada menjalankan  kekuasaan itu bersama bruder Indonesia’. Tentu ini hanya persoalan awal yang diikuti banyak persoalan dan kesulitan. Meskipun demikian, tepat pada tanggal 25 Nopember propinsi Indonesia dipisahkan dari kongregasi induk dan diakui sebagai kongregasi diosesan dan otonom: Kongregasi Para Bruder Santo Aloisius Gonzaga, Semarang.

 

KEINDAHAN CSA

Melihat perjalan kemandirian CSA Indonesia ini, sebagai generasi muda CSA saya sangat berbangga kepada para bruder yang sudah berjuang mewujudkan kemandirian itu. Dalam lika liku perjalanan CSA itu, sebagai generasi muda saya merefleksikan dan menemukan keindahan yang dimiliki oleh para bruder CSA pendahulu yang memperjuangkan kemandirian, yang tidak dimiliki oleh orang lain. Mungkin orang lain memilikinya tetapi belum tentu sama. Jika keindahan ini benar-benar dihayati dan dihidupi, maka CSA bisa menjadi teladan bagi setiap orang yang dilayani.

 

Keindahan itu adalah Persaudaraan, Kasih dan Damai (PKD). PKD ini sudah diwariskan dari para pendahulu (pendiri) yang dihidupi dari masa ke masa bahkan dalam proses mewujudkan dan sampai terwujudnya kemandiriaan CSA di Indonesia.

 

1.         PKD sebagai Falsafah dan visi CSA

Kekhasan CSA itu adalah PKD. Mungkin selama ini banyak hal yang sudah dibuat dalam hidup PKD seturut konstitusi atau domuken. Namun, saya mencoba melihat PKD sebagai falsafah, bukan pernyataan tentang apa yang sudah dicapai (Kemandirian). Sebaliknya, PKD adalah visi yang menunjukkan apa yang belum dicapai dan sesungguhnya merupakan tujuan yang indah yang ingin kita capai agar CSA menjadi lebih baik. 22 tahun telah kita lewati. Kiranya hari raya kemandrian ini merupakan moment yang tepat untuk para bruder supaya melihat dan mendalami kembali PKD. Apa yang perlu diubah? Apa yang harus dibarui ke depan? Artinya yang perlu dilihat dan dibarui itu PKD kedepannya. Bukan berarti melupkan yang sudah berlalu (sejarah) tetapi kiranya baik sejarah itu menjadi tolak ukur dan pembelajaran kedepannya. Life must be lived forwards, but can only be understood backwards- hidup harus dihayati dengan melangkah kedepan, tetapi hanya dapat dipahami dengan menoleh ke belakang” (Soren Kierkegoard). Memang untuk mengetahui masa lampau karena masa lampau membantu kita memahami di mana kita sekarang ini. Juga berarti untuk membuat rencana masa depan karena rencana itu membantu kita memutuskan apa yang harus dikerjakan sekarang ini. Tetapi, satu-satu hal yang secara aktual ada adalah di sini dan kini.

 

2.         PKD sebagai karakter CSA

Setiap pribadi dalam CSA begitu berbeda dan unik satu dengan yang lainnya. Perbedaan dan keunikan masing-masing yang bersatu dalam satu kesatuan yaitu CSA, adalah keindahan yang luar biasa. Perbedaan-perbedaan ini bukan menjadi penyebab untuk setiap pribadi hidup sendiri atau terjadi sukuisme, melainkan menjadi kekayaan dan cermin karakter persaudaraan para bruder supaya menjadi komunitas yang solid, kuat, demi satu tujuan yang sama, mengikuti Tuhan sebagai bruder CSA yang mandiri, bukan CSA yang lemah. Kekuatan karakter ini adalah setiap bruder menerima semua perbedaan dan keunikan dengan saling menghargai sebagai ciptaan Tuhan yang unik. Alangkah baiknya karakter ini menjadi lebih kuat jika dilandasi dengan semangat Nekaf Mese, Ansaof Mese- satu hati, satu jiwa (bahasa Timor-Dawan). Kita jelas berbeda, dan tidak bisa disamaratakan begitu saja. Tetapi satu keindahan yang pasti, kita sama-sama datang dan bersatu untuk menjadi bruder CSA, dan pewarta kabar gembira kepada kaum muda di tengah zaman yang tidak pasti (unpredicatable world). Semangat nekaf mese, ansaof mese inilah yang mampu menjadikan kita sebagai CSA yang berkarakter, CSA yang kuat dan mampu berlangkah bersama-sama.

 

3.         PKD sebagai jiwa CSA

Sebagai seorang CSA kita dipanggil untuk saling mengasihi dan bersama-sama memperjuangkan hidup yang damai. Kasih dan damai (Caritas et Pax) merupakan khasanah warisan dari para pendiri, “ajakan terus menerus dari bapak Vincentius untuk “Kasih dan Damai”(Kons. 1..3.2). Kasih dan damai ini sudah menjadi jiwanya para pendiri dan para bruder pendahulu.

Sebagai generasi CSA sekarang ini tentu patut kita berbangga dengan Kasih dan Damai. Tetapi apakah ini sudah kita jadikan sebagai jiwa kita? Jangan sampai, jiwa caritas et pax hanyalah sebagai slogan atau kata-kata indah? Misalnya; tidak ada kasih dan damai dengan sesama (saling mendiamkan, gosip, sakit hati, iri hati, tidak rela berbagi karena takut disaingi), masih ada persaudaraan feodal (yunior-senior, kakak-adik, tua-muda). Jika kita mau jujur dengan diri sendiri dari hal-hal diatas mungkin pernah kita alami, atau bahkan kita sendiri pernah melakukannya. Bersyukurlah kalau ada dari kita yang tidak pernah melakukan itu.

Jiwa caritas et pax yang tulus dan bersahaja runtuh pada saat kita terlibat dalam hal-hal diatas. Inilah kenyataan yang terjadi, kita bangga menjadi menjadi CSA tapi kita tidak serius menjadi CSA secara serius. Kita tidak mengasihi sesama saudara dalam komunitas, kita tidak damai dalam komunitas tapi damai di luar komunitas, kita tidak rela berbagi, takut disaingi, merasa lebih hebat dan pintar dari yang lain, karena banyak berkarya menganggap rendah yang lain, tidak ada keseimbangan antara doa dan karya, tidak menghargai karya dan usaha yang dilakukan oleh sesama bruder, dan yang lebih parah jika kita tidak menaruh semua pengharapan dan kepercayaan kita kepada Allah. Kita mungkin mempunyai pembelaan diri. Saya bukan santo! Saya hanyalah manusia biasa! Inilah caraku! Inilah watakku! Tetapi sadar atau tidak sesungguhnya itu adalah kekurangan pada watakmu.

Melihat ini, roh atau jiwa caritas et pax perlahan berubah haluan, hanya sebatas kata-kata indah yang diucapkan. Untuk itu, kita perlu menemukan dan menghidupkan kembali jiwa caritas et pax yang bukan hanya sebagai teori. Karena teori tidak akan bermakna tanpa adanya praktek. Mari kita wujudnyatakan jiwa caritas et pax dalam kehidupan kita setiap hari dimana pun berada.

TANTANGAN UNTUK KITA GENERASI MUDA CSA

Jika keindahan diatas benar-benar kita hayati dan hidupi, maka CSA akan semakin kokoh kuat dalam menghadapi arus zaman yang tidak pasti ini (unpredictable world) dan CSA tidak akan pernah lenyap.

Bercermin dari para pendiri yang meski mengalami konflik dan perlakuan kurang bersahabat, perjuangan terkait pengesahan konstitusi dan pembangunan Institut St. Louis. Begitupun para bruder pendahulu yang berjuang telah dan melewati berbagai tantangan untuk kemandirian CSA di Indonesia. Tetapi mereka tetap menjalani dengan semangat PKD yang berkobar-kobar. Mereka tetap berjalan bersama, Nekaf Mese, Ansaof Mese, yang membawa CSA tetap eksis sampai sekarang dan kita masih menikmatinya. Apakah semangat ini masih kita miliki? Apakah kita mau berjuang bersama untuk CSA? Inilah waktu kita. Inilah kesempatan kita. Mari kita bersama-sama, Nekaf mese, ansaof mese, membangun CSA yang lebih baik lagi kedepannya. Kita rawat khasanah warisan dari pendiri (PKD) ; “Hendakknya para bruder mempertahankan sebagai khasanah warisan yang berharga apa yang dihayati oleh para pendiri dan bruder-bruder pertama.TERMASUK KHASANAH WARISAN ITU: Ajakan terus menerus dari bapak Vincentius untuk “Kasih dan Damai” (Kons. 1.3). Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, satu-satunya jalan ke depan adalah bersama, bergandeng tangan bantu-membantu dan tempat untuk memulai semua itu adalah diri sendiri.

 

 

Sumber bacaan:

Buku PKD Jilid 1 &2

Nolan, Albert. 2006. Jesus Today: A Spiritual of Radical Freedom. …. Orbis Books

Pedoman CSA

Konstitusi CSA

 

 






 

Rabu, 17 November 2021

Sepak bola itu pemersatu

                                                       

SEPAK BOLA ITU PEMERSATU

(Unitas In Diversitas-Bersatu Dalam Perbedaan)

Br. Alfonzsh, CSA

 

Menerut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), persatuan adalah gabungan (ikatan, kumpulan, dan sebagaiannya) beberapa bagian yang sudah bersatu. Sementara kesatuan adalah perihal satu. Keesaan yang bersifat tunggal. Berdasarkan istilah, persatuan dan kesatuan berasal dari satu kata yang berati utuh atau tidak terpecah belah.

Sepak bola bukan sekedar olahraga permainan. Lebih dari itu sepak bola adalah pemersatu banyak perbedaan.  Ini disentil oleh Stefan Howells, tokoh olahraga di Afrika Selatan yang mengatakan bahwa  politik memang perlu. Tetapi lewat politik Anda hanya akan menemukan perbedaan partai-partai. Lewat bola Anda menemukan satu-satu ideal, yang bisa membuat orang seia-sekata. Kesatuan idealisme inilah jalan untuk mengubah masyarakat lama menuju masyarakat baru. Hal ini terlihat dari permainan sepak bola yang mempersatukan semua unsur dalam kehidupan. Karena bola Kristen maupun Islam, kulit putih maupun putih, anak-anak, orang tua, bahkan wanita melupakan perbedaan yang ada diantara mereka. Memang benar kalau permaian sepak bola tidak selalu membawa perdamaian, tetapi jika dipahami dengan baik, keseruan bisa membuat orang lupa dengan latar belakang mereka.

Kita perlu belajar dari sepak bola bahwa kita memang berbeda. Kita datang dari berbagai daerah, latar belakang keluarga, gaya hidup, dan suku yang berbeda. Tetapi kita semua adalah satu. Kita dipersatukan oleh sang pencipta. Kita boleh berbeda pendapat tetapi bukan bermusuhan. Kita berbeda warna kulit tetapi kita adalah saudara.

Sadar atau tidak, kita sebenarnya adalah saudara. Sebagai sauadara kita mempunyai kekhasan masing-masing. Kita semua semua dibentuk melalui berbagai macam pengalaman pribadi. Hal ini menuntut dari setiap pribadi keterbukaan untuk saling menerima untuk tetap berada dalam kebersamaan, persaudaraan dan kesatuan, serta rasa tanggung jawab. Kita belajar dari para pemain bola yang datang dari berbagai negara, dengan latar belakang yang berbeda. Tetapi mereka bersatu, hidup bersama dalam satu tim. Dalam perbedaan itu mereka bersatu berjuang untuk meraih kemenangan tim yang dibela.  Hemat saya, bersatu adalah kata kunci ketika ingin menggapai cita-cita yang sangat mulia. Setiap pribadi menyumbangkan sikap hati yang tulus dalam berbagi hidup, pengertian dan saling membantu. “Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama” (Kis. 2:44).

Saya mengutip dari isi pidato Presiden Soekarno pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 1963, bahwa ratusan lidi akan tercerai berai, tidak berguna, dan mudah patah jika tidak diikat. Namun, jika lidi-lidi tersebut disatukan dan diikat maka tak akan ada yang mampu mematahkannya. Demikian pula rakyat Indonesia yang harus menjaga persatuan dan kesatuannya.

Saya berpikir bahwa ketika kita bersatu dan bersama segala sesuatu akan kita lakukan. Karena dalam kebersamaan akan menjadikan hal-hal sepele terasa sangat menggembirakan. Seorang pemain pernah mengatakan bahwa jika di lapangan hijau kita dapat memberi contoh bagaimana suatu tim yang terdiri dari latar belakang berbeda bersama-sama dapat menghasilkan prestasi, maka prestasi itu akan bergema bagi kesatuan seluruh dunia.

LOTIS itu aneka buah. Rujak nama lainnya. Lotis itu bisa berarti keragaman yang menyegarkan. Unitas in diversitas! Setiap pribadi menyumbangkan rasanya. Inilah kebersamaan dalam kehidupan bersama sebagai mahkluk sosial. Kita datang dari latar belakang, suku, budaya, dan agama yang berbeda. Tetapi disini mereka dipersatukan dengan semangat LOTIS; LOving (mencintai), TransformIng (mengubah), dan Serving (melayani) di tengah keanekaan manusia, komitmen untuk memberi diri bagi pelayanan kasih.