Selamat Datang

... di situs resmi Kongregasi Bruder St. Aloysius

Kapitel Umum 2010

Wujud kebersamaan penegasan Roh dalam kongregasi.

Perayaan Syukur 150 thn CSA di Indonesia

Perayaan Jubileum 150 thn CSA di Indonesia bersama Uskup Semarang.

Rekreasi ke Pulau Komodo

Gembira bersama dalam semangat persaudaraan, kasih dan damai.

Workshop bersama para bruder se-NTT

Wujud pembinaan yang berkelanjutan bagi para bruder di tempat karya.

Jubileum 150 thn CSA di Indonesia

Mengenang awal kehadiran Bruder CSA di Indonesia pada tahun 1862.

Evaluasi bersama akhir tahun

Pencarian bersama kehendak Roh Kudus dalam hidup dan karya para Bruder CSA.

Perayaan syukur hidup membiara

Syukur atas rahmat kegembiraan, persaudaraan, dan kesetiaan dalam hidup membiara.

Selasa, 04 Juni 2013

Komunitas Ruteng





Komunitas ini adalah komunitas CSA perdana untuk luar Jawa. Beralamatkan di Jl. A. Yani 8 Ruteng, Flores, NTT. Tanggal 27 Agustus 1958, empat bruder CSA tiba di Ruteng untuk menjalankan perutusan di bidang karya pendidikan. SPG Tubi, yang semula milik Keuskupan Ruteng, ditangani oleh para bruder. SPG St. Aloisius Ruteng dalam pekembangannya menjadi sekolah yang mencetak tidak hanya para calon guru SD tetapi juga para pewarta iman Katolik (katekis). Sekolah ini sangat diminati oleh kaum muda di kabupaten Manggarai dan sekitarnya. Sekolah dan asrama menjadi satu paket yang ideal pada jamannya. Sejak awal kehadirannya, para bruder juga mengajar di SMP Tubi (sekarang SMP N 1 Ruteng) dan mengelola asrama SMP tersebut.
Sejak SPG ditutup oleh pemerintah pada tahun 1991, bekas gedung dan kompleks sekolah ini dialihfungsikan sebagai Rumah Retret Efata,
sedangkan kompleks asrama digunakan untuk pusat latihan PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) yang memberi aneka pelatihan kursus bagi kaum muda yang droup out atau tidak bisa melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Bagian putri yang terdiri dari asrama putri, kursus tata boga, tata busana ditangani oleh para Suster SND, hasil kerja sama antar kongregasi. Selain menjadi komunitas karya, sejak tahun 1995 – saat ini komunitas CSA Ruteng juga menjadi rumah pembinaan untuk para aspiran (peminat CSA).
Anggota komunitas saat ini (2013-2014) : Br.Mateus (Pimpinan Komunitas), Br. Agus, Br. Giovani, Br. Suryadi, Dominggus, Br. Ariyanto, Br. Maxi, Br. Rafael, Br. Susilo.


Komunitas Boawae

KOMUNITAS CSA BOAWAE
Kehadiran empat bruder pioner di Boawae pada 1 Juli 1980, atas undangan Mgr. Donatus Djagom, SVD (Uskup Agung Keuskupan Agung Ende) agar para bruder membantu memperbaiki mutu SPG St. Fransiskus, satu-satunya sekolah calon guru di kecamatan ini. Untuk mendukung mutu sekolah didirikanlah asrama bagian putra di kompleks bruderan Boawae. Setelah SPG ditutup oleh pemerintah tahun 1991, asrama digunakan untuk menampung anak-anak SMP/SMA, dan para brudernya ada yang mengajar di SMA Fransiskus atau SMP Kotagoa. Komunitas CSA di Boawae, Nagekeo (Flores), NTT ini berhalaman luas, rindang dan sejuk karena masih berada di area kaki gunung Abulobo.
Tahun 2012 ada tawaran untuk mengelola asrama putra khusus untuk anak SMP Kotagoa di kompleks sekolah tersebut. Dua bruder diutus untuk menangani karya baru ini sambil mengajar di SMP. Kendati demikian, asrama St. Aloisius di bruderan tetap dikelola untuk menampung dan memberi pendampingan bagi anak-anak yang bersekolah di tempat lain. Secara historis karya CSA berupa asrama bukanlah karya nomor dua, tetapi selalu menjadi karya utama, maka tidak salah jika karya utama komunitas CSA di Boawae adalah karya asrama di bruderan dan asrama di SMP Kotagoa.
Anggota komunitas CSA Boawae (2013-2014) : Br. Lourent (Pimpinan Komunitas), Br. Tarsi dan Br. Didimus

Senin, 03 Juni 2013

Komunitas Tusam

 KOMUNITAS TUSAM RAYA

Komunitas CSA Tusam Raya beralamatkan di Jl. Tusam Raya 50 Banyumanik, Semarang. Didirikan tahun 1980 dengan karya utama menangani SMP St. Aloisius. Namun karena sekolah ini jumlah siswanya terus menurun maka kemudian di tutup tahun 2006. Kemudian dirintis karya baru berupa Wisma Lansia Harapan Asri yang pemberkatannya dilangsungkan tahun 2009. Wisma lansia ini menjadi karya baru bagi komunitas CSA Tusam yang  hingga kini terus berbenah diri. Berkat penanganan yang serius, banyak peminat yang akhirnya tinggal di wisma lansia ini. Selain dihuni untuk umum, para bruder CSA yang lansia nantinya juga akan menghuni  tempat ini. Saat ini baru ada satu bruder sepuh yang tinggal di sini yakni, Br. Pius. Selain menangani karya wisma lansia, komunitas CSA Tusam juga menjadi komunitas student, karena selalu ada para bruder muda yang tinggal di komunitas ini untuk tugas khusus yaitu kuliah.
Anggota komunitas CSA Tusam tahun 2012 yaitu : Br. Heri (pimpinan komunitas
), Br. Pius, Br. Bayu, Br. Yulius, Br. Lambert, Br. Athan, Br. Mamat.

Komunitas Generalat



Komunitas Generalat

 Komunitas CSA yang kini menjadi rumah induk ini beralamat di Jl. Kanfer Raya 49 Banyumanik, Semarang. Komunitas ini sebenarnya didirikan sebagai bentuk antisipasi pasca semakin sedikitnya peran para bruder di bidang pendidikan di Karangpanas. Didirikan tahun 1980 dan sekaligus menjadi cikal bakal berdirinya SMP St. Aloisius sebelum sekolah ini dipindahkan ke kompleks komunitas Tusam. Komunitas Generalat ini tumbuh seiring dengan bertumbuhkembangnya paroki Banyumanik, sehingga almarhum Kardinal Darmoyuwono, setelah emeritus sempat tinggal di Komunitas Generalat ini sambil menunggu proses pembangunan gedung paroki. Kiranya ini menjadi berkat bagi rumah induk ini.

 Sebagai rumah induk, komunitas ini kerap digunakan untuk kegiatan on going formation bagi para bruder baik secara bersama maupun pribadi. Dari tempat inilah Bruder Pemimpin Umum memantau gerak pelayanan dan perutusan para bruder di komunitas di seluruh Indonesia.

Saat ini para bruder yang tinggal di komunitas ini, selain Bruder Pemimpin Umum juga para bruder yang berkarya di lembaga Keuskupan Agung Semarang seperti Yayasan Paulus dan Yayasan Sosial Soegijapranoto. Tahun 2012 ini komunitas Generalat dihuni oleh Br. Lukas (Pemimpin Umum), Br. Konrad, Br. Modestus dan Br. Floribertus

Spiritualitas

Santo Aloysius Gonzaga (1568-1591) 

Lukisan itu bergambar sosok pemuda gagah berpakaian bangsawan. Wajahnya begitu tenang dan lembut. Pria muda bangsawan yang memilih menjadi imam Yesuit itu adalah Aloysius Gonzaga. Dia wafat di usia yang sangat muda 23 tahun karena tertular penyakit pes dari orang yang dirawatnya. Dalam hidupnya yang begitu singkat Aloysius telah memilih untuk hidup sederhana, menjaga kemurnian, dan penuh belas kasih pada para kaum muda dan orang sakit. Aloysius Gonzaga, yang biasanya dipanggil Luigi, lahir di Castiglione delle Stiviert, Italia Utara pada tanggal 9 Maret 1568. Ia berasal dari sebuah keluarga bangsawan yang berkuasa dan kaya raya. Ketika berumur 9 tahun , putera tertua dari Bangsawan Marchese Ferrante ini mengikuti pendidikan di istana salah satu keluarga terpandang di Eropa, Fransesco de Medici di Florence. Selama berada di istana de Medici, Aloysius kecil mulai menyadari panggilan ilahi dalam dirinya. Hidup asusila yang mewarnai cara hidup orang-orang istana sangat memuakkan hatinya. Untuk menghindari pengaruh gaya hidup para bangsawan saat itu, ia terus berdoa memohon pertolongan dari Tuhan. Tak hanya itu, Aloysius kecil dengan berani memutuskan untuk menjaga kesucian dirinya. Keputusan kuat ini diikrarkan selagi usianya 10 tahun. Dua tahun kemudian laki-laki kecil berpikiran dewasa ini menerima Komuni Kudus pertama dari Uskup Agung Milan, Karolus Borromeus. Setelah itu Aloysius dikirim ke Mantua dan hidup bersama sanak saudaranya. Sanak keluarganya itu memiliki kapel pribadi yang sangat indah tempat Aloysius menghabiskan waktunya. Aloysius selalu membaca buku Kehidupan Para Kudus dan mendaraskan mazmur-mazmur. Dari pendarasan mazmur harian inilah pikiran untuk menjadi seorang imam muncul. Selain itu ia menemukan ringkasan ajaran kristiani, karangan Petrus Kanisius dengan meditasi-meditasi untuk setiap hari pada akhir buku itu di perpustakaan keluarga. Aloysius menggunakan meditasi-meditasi itu untuk doanya dan segera mulai merasakan buah-buah rohani. Aloysius juga berpuasa tiga hari seminggu, bermeditasi pagi dan sore, serta menghadiri Misa setiap hari. Aloysius mempunyai bapa pengakuan seorang imam Yesuit, dan makin lama semakin terpikir untuk menjadi seorang Yesuit. Hasrat itu dikuatkan pada tanggal 15 Agustus 1583, ketika Ia sedang berdoa di depan patung Bunda Maria di gereja Yesuit. Ayahnya tidak memberi izin karena Aloysius adalah anak tertua calon penerus keluarga. Tetapi Aloysius tetap bersikeras menjadi imam. Akhirnya setelah mendapat persetujuan ayahnya, Aloysius muda masuk novisiat Serikat Jesus di usia 17 tahun. Ia mengucapkan ketiga kaulnya (kemiskinan, kemurnian dan ketaatan) pada tanggal 25 November 1587. Selanjutnya ia melanjutkan studinya dengan belajar teologi dan terbukti sebagai mahasiswa yang cemerlang. Tak hanya pandai dalam hal akademis, Frater Aloysius juga seorang yang saleh dan penuh belas kasih. Kawan-kawannya sangat menyukainya karena belaskasihan, kerendahan hati dan ketaatannya. Kesalehan hidup dan ketabahannya dalam menghayati hidup membiara membuat dia menjadi tokoh teladan bagi kawan-kawannya. Kemurnian hati, nilai-nilai luhur dan sikap hidup Aloysius Gonzaga membuatnya dipilih menjadi Santo Pelindung Tarekat Bruder Congretio Sanctii Aloysii (CSA) atau Kongregasi Santo Aloysius. Tarekat ini didirikan oleh Pastor Willem Hellemons, seorang imam dari Ordo Cistersien, pada tanggal 1 Maret 1840 di Kota Oudenbosch, Belanda. Tarekat ini memberi perhatian pada pendidikan kristiani kaum muda. Aloysius yang sejak kecil menyerahkan hidupnya bagi Tuhan menjadi teladan bagi para bruder CSA. Di sepanjang jaman, kaum muda mengalami saat krisis identitas, mudah terpengaruh dan tergoda pada hedonisme. Tetapi Aloysius muda justru melawan arus kebiasaan orang muda pada zamannya. Aloysius selalu dijiwai semangat yang berkobar-kobar, idealis, berani bermimpi, namun memiliki kemurnian hati dan belas kasih pada sesama. Itulah yang seharusnya juga menjadi semangat yang dimiliki seorang Bruder CSA. Selain itu kemurnian hati Aloysius untuk mengabdikan diri hanya pada Tuhan dihayati juga oleh para bruder CSA. Para bruder menghayatinya melalui pekerjaan/karya para bruder masing-masing yang dipercayakan oleh tarekat. Kemurnian Aloysius disimbolkan dengan Bunga Lili (lambang kemurnian) yang sering disertakan pada gambar dan patungnya. Bruder CSA berkarya di Indonesia di 10 komunitas yang terletak di 6 kota. Biara pusat berlokasi di Banyumanik, Semarang. Selain berkarya di bidang pendidikan, para bruder juga memulai karya wisma lansia “Harapan Asri” sejak tahun 2009. Beberapa bruder membantu keuskupan dan bekerja sebagai Ketua Yayasan St Paulus yang membawahi SMK dan Akademi Kimia Industri (AKIN), sebagai Direktur Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS), dan sebagai tenaga bimbingan konseling di SMK Kimia Industri. Di Sleman Yogyakarta, para Bruder CSA mengelola SMPK St Aloysius milik paroki Turi dan mendirikan asrama putra/i St Aloysius. Selain itu mereka juga berkarya di Madiun, Kupang, dan Flores. Ada 3 komunitas Bruder CSA di Flores. Di Ruteng, Flores, ada Yayasan Solidaritas yang mengelola rumah retret dan pendidikan non-formal/kursus-kursus untuk kaum muda putus sekolah (pertanian, peternakan, bengkel kayu, besi, batako, dan otomotif). Semua peserta kursus tinggal di asrama bruderan. Di Boawae, Flores, para bruder mengelola asrama putra dan beberapa bruder menjadi guru dan mengajar di sekolah milik yayasan keuskupan. Sedangkan di Mbay, Flores, ada asrama putra St Aloysius dan sebuah bengkel kayu. Para bruder CSA menghayati devosi pada Sakramen Maha Kudus yang diwujudkan dengan mencintai ekaristi dan adorasi rutin di setiap komunitas. Devosi sengsara Yesus muncul dalam spiritualitas salib di mana setiap Bruder CSA dituntut berani mati raga, kerja keras, tidak mudah menyerah demi orang-orang kecil miskin, tersingkir, difabel, yang juga menjadi pilihan karya tarekat. Juga devosi pada Bunda Maria dengan doa rosario bersama atau pribadi. Selain itu, para bruder selalu hidup dalam sebuah komunitas, taat pada pimpinan komunitas dan menghidupi kaul kemiskinan, ketaatan, serta kemurnian. Tinggal bersama bruder yang lain dalam sebuah rumah/komunitas berarti siap untuk berbagi suka dan duka, terbuka, dan menerima satu sama lain dalam kebersamaan. Pada 1591, terjadilah wabah pes dan kelaparan di Italia. Aloysius mengumpulkan dana dengan mengemis di Roma bagi daerah-daerah yang terkena wabah. Aloysius bekerja langsung merawat orang-orang sakit, mengangkut orang-orang yang hampir mati di jalan raya, membawanya ke rumah sakit, memandikan, memberi makan serta mempersiapkan mereka untuk penerimaan sakramen-sakramen. Karena banyak Yesuit muda mulai terkena penyakit itu, Pater Superior melarang Aloysius untuk kembali ke rumah sakit. Ketika Aloysius mengajukan lagi permintaan untuk melayani orang-orang sakit, ia diberi izin, tetapi hanya untuk membantu di Rumah Sakit Santa Perawan Maria Penghibur. Di sana pasien-pasien dengan penyakit menular biasanya tidak diterima. Aloysius pergi ke sana, mengangkat seorang pasien dari tempat tidurnya, merawatnya dan mengembalikannya ke tempat tidur semula. Ternyata orang itu terkena penyakit menular dan Aloysius ketularan penyakit itu dan terpaksa istirahat. Tanggal 21 Juni 1591, pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Aloysius menghembuskan nafas terakhirnya. Sesaat sebelum wafat, Aloysius mengarahkan pandangan matanya kepada salib yang ia pegang, dan sewaktu mencoba menyebut nama Yesus, imam muda Yesuit yang penuh belas kasih itu meninggal dunia. Aloysius Gonzaga wafat pada usia 23 tahun dan
dimakamkan di Gereja Anunciata, di samping Kolese Roma. Di kemudian hari, jenazahnya yang suci dipindahkan ke Gereja Santo Ignatius. Di sana jenazahnya dihormati sampai hari ini. Tanggal 21 Juni lalu menjadi pesta nama St Aloysius. Para Bruder CSA merayakannya sebagai pesta kongregasi. Biasanya hari itu menjadi hari penerimaan jubah dan pengikraran kaul sementara. Peristiwa ini dilakukan dalam sebuah Misa khusus di Komunitas Novisiat dengan mengundang perwakilan bruder dari semua komunitas di Jawa. Komunitas yang lain merayakan dengan caranya masing-masing. Aloysius Gonzaga diberi gelar Beato oleh Bapa suci Paulus V pada tanggal 19 Oktober 1605 dan dinyatakan sebagai Santo oleh Paus Benediktus XIII pada tanggal 31 Desember 1726. Pesta Santo Aloysius dirayakan pada tanggal 21 Juni.

Sejarah

SEJARAH SINGKAT KONGREGASI BRUDER-BRUDER ST. ALOISUS (CSA) SEMARANG

Di sebuah dusun pertanian di bagian selatan dari negeri Belanda, tepatnya di
dusun Oudenbosch, pada 1 Maret 1840 didirikan sebuah Kongregasi Bruder-bruder Santo Aloysius (CSA). Kongregasi ini didirikan oleh Pastor Willem Hellemons, O Cist untuk menjawab kebutuhan pastoral di paroki Oudenbosch, yang masuk dalam wilayah Keuskupan Breda, Belanda selatan. Pastor Willem Hellemons,O Cist, pastor kapelan setempat mengajak seorang pemuda bernama Yohanes Huybrechts, yang akhirnya menjadi bruder pertama dengan nama biara “Vader Vincensius” untuk merintis sebuah karya pendampingan kaum muda yang mengalami krisis iman dan moral akibatperang antara Belanda dan Belgia. Ketika sedang dilangsungkan gencatan senjata antar kedua pihak, banyak tentara yang menganggur dan berulah, membawa pengaruh jelek pada masyarakat setempat khsususnya anak-anak dan kaum mudanya. Banyak pemuda yang apatis terhadap kegiatan Gereja, tidak lagi menghormati sakramen-sakramen Gerejani

dan jarang ikut misa pada hari Minggu serta bertindak kriminal, meresahkan banyak orang. Bahkan walikota Oudenbosch dan pastor kepala sendiri merasa putus asa dengan situasi ini. Namun Pastor Weillem Helemons tetap berjuang untuk memperbaiki situasi dengan caranya sendiri. Maka dirintislah sebuah kongregasi bruder yang bisa menjadi partner pastoral. Itulah cikal bakal lahirnya Kongregasi Bruder St. Aloysius (CSA) yang dikemudian hari juga menjejakkanlangkah kakinya di tanah misi Hindia Belanda (Indonesia).

Awal Karya di tanah Misi Hindia Belanda

Awalnya adalah Pater M. Van den Elzen, SJ, penanggung jawab misi Jesuit di Jawa meminta tenaga dari Kongregasi Para Bruder St. Aloysius (CSA) di Oudenbosch- Belanda untuk membuka karya pendidikan di Surabaya tahun 1862. Inisiatif ini tentu telah disetujui olerh Mgr. Vrancken, Vikaris Apostolik Batavia. Pater van den Elzen, yang mantan rektor skolastikat SJ di Belanda mempunyai strategi kerasulan tersendiri dalam tugasnya yang baru di Stasi Surabaya. Pilihan bidang pendidikan kiranya sangat tepat mengingat Surabaya waktu itu sudah merupakan salah satu pusat industri di pulau Jawa.

“Tidak mungkin Gereja bisa berkembang tanpa Sekolah Katolik” demikian beliau meyakinkan para bruder setelah mereka tiba di Surabaya 28 Mei 1862. Maka, ke empat bruder CSA yakni Br. Engelbertus, Br. Stanislaus, Br. Felix dan Br Antonius segera memulai karya persekolahan dengan membuka ELS (Europes Lagere School) atau Sekolah Dasar khusus putra. Untuk Sekolah Dasar khusus Putri baru ditangani oleh Para Suster Ursulin mulai tahun 1863.

Pada tahun 1862 jumlah umat Katolik di Surabaya 1767 jiwa, terdiri dari umat asli Belanda dan Indo (ayah Belanda-ibu pribumi), belum ada satupun umat pribumi yang memeluk agama Katolik di Kota itu. Situasilah yang kemudian menuntut para bruder CSA untuk berkarya hanya di tengah kaumnya sendiri, orang-orang Eropa/indo. Pelan namun pasti sekolah bruderan makin di kenal dan diminati banyak orang baik dari golongan atas, menengah maupun bawah. Model subsidi silang ternyata telah diterapkan sejak awal oleh para bruder. Ada 2 jenis sekolah, sekolah I untuk anak-anak orang kaya yang notabene semua murid anak-anak asli Belanda dan beragama Protestan, sedangkan sekolah II untuk anak-anak dari orang-orang miskin yang sebagian besar diisi oleh anak-anak Indo yang beragama Katolik.

Pater Van den Elzen justru menaruh perhatian pada sekolah II ini karena anak-anak Indo inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal pertumbuhan Gereja di Surabaya sebab merekalah yang akan menetap di Surabaya, tidak seperti anak-anak asli Belanda yang akan mengikuti orang tuanya pindah tugas ke kota lain atau bahkan kembali ke negeri leluhur, Belanda.

Setelah 40 tahun berkarya di Surabaya, para bruder CSA mengembangkan karya pendidikannya dari tingkat SD, SMP dan SMA di kota-kota lain di Hindia Belanda seperti di Jakarta (1905), Semarang (1907), Bandung (1930), Madiun (1934). Berkat kerja keras dan dukungan dari para pemimpin Gereja saat itu, karya persekolahan para bruder CSA cukup dikenal dan diminati banyak orang tua murid, di kalangan perkotaan. Di antara sekolah-sekolah itu cukup familiar bagi sebagian umat katolik di perkotaan, misalnya SMA Sint Louis Surabaya, SD-SMP-SMA Aloysius Bandung atau yang dikenal dengan nama SMA TOP (TARUNA OGHA PRAVRITTI), SD-SMP-SMA Sint Louis Semarang.

Kemerdekaan RI Mengubah Segalanya

Selama pendudukan Jepang seperti yang dialami oleh sebagian misionaris Belanda, ada beberapa bruder CSA yang juga dimasukkan kamp-kamp tahanan Jepang baik di Surabaya maupun di Bandung. Itulah awal masa-masa sulit bagi perjalanan kongregasi. Banyak sekolah bruderan, asrama maupun panti asuhan yang dijadikan markas tentara Jepang, akibatnya sebagian anak-anak dipulangkan atau diungsikan ke tempat yang aman.

Pasca Kemerdekaan RI meskipun sekolah, asrama, panti asuhan diserahkan kembali ke bruderan namun kesulitan toh tetap ada hanya bentuknya yang berbeda. Beberapa bruder karena berstatus WNA tidak diijinkan mengajar di Indonesia, sebagian besar kembali ke negeri Belanda dan sebagian kecil lagi mengikuti proses indonesianisasi, menjadi WNI.

Pada waktu-waktu selanjutnya, para bruder dari Belanda, sebagaimana dialami oleh para misionaris lain, juga sulit masuk ke Indonesia karena peraturan pemerintah RI yang membatasi tenaga misionaris. Namun panggilan di negeri Beladna pada era itu juga sudah menurun. Sementara para bruder asli Indonesia masih sangat sedikit. Akibatnya karya-karya yang besarpun terutama di bidang pendidikan mulai kehilangan tenaga-tenaga handanya.

Menerima Calon Pribumi

Setelah berkarya di Indonesia selama 95 tahun, CSA baru membuka novisiat, namun menerima calon-calon bruder pribumi baru pada tahun 1959. Mengapa bisa begitu terlambat? Salah satu penyebabnya adalah bahwa sejak awal kehadirannya para bruder hanya berkarya di tengah anak-anak Belanda dan Indo, interaksi dengan pemuda-pemuda pribumi juga sangat jarang, akibatnya juga tidak ada pemuda pribumi yang tertarik untuk menjadi bruder. Lagi pula kongregasi juga masih menaruh harapan pada panggilan bruder di Belanda, meskipun faktanya panggilan di sana pun sudah sangat berkurang. Maka karena situasi dan kebutuhan akhirnya menerima jug a calon bruder pribumi.

Dampak dari terlambatnya menerima calon bruder pribumi adalah terjadinya generasi yang ‘hilang’ sehingga menyebabkan terhambatnya estafet karya pendidikan. Sekolah-sekolah bruderan di Surabaya, Bandung, Semarang kemudian diserahkan ke Keuskupan setempat atau dijual ke tarekat lain dengan harga ‘persaudaraan’, yang penting biara, sekolah maupun panti asuhan tersebut masih digunakan untuk keperluan misi Gereja Katolik di Indonesia. Namun ada satu kompleks Sekolah di Jakarta yang terpaksa di jual ke pemerintah (Pertamina) karena adanya intervensi dari pemerintah untuk dapat memiliki tanah dan bangungan tersebut.

Antara tahun 1970-1980 banyak rumah biara dan karya persekolahan yang beralih tangan ke tarekat/yayasan lain. Di Surabaya, Jakarta, Bandung biara dan sekolah-sekolah Sint Louis diserahkan ke keuskupan dan rumah biara di jual ke tarekat lain. Kekurangan tenaga bruder menjadi penyebab utamanya. Lagi pula bruder pribumi masih sangat sedikit dan tidak akan sanggup menangani karya-karya sekolah yang besar tersebut.

Dalam perjalanan waktu calon-calon pribumi meskipun tidak banyak namun tetap ada sehingga lambat laun bisa menggantikan posisi tugas dan tanggung jawab bruder-bruder dari Belanda yang karena usia kemudian ada yang kembali ke negeri Belanda atau ada juga yang meninggal di Indonesia. Kemudian para bruder pribumi hanya menangani karya di tiga kota di Jawa: Madiun, Semarang dan Yogyakarta dan satu di Flores (Ruteng).

Berkat rahmat dan kasih Tuhan, CSA yang hampir mati ini bisa hidup kembali, tunas itu tidak dibiarkan mati oleh Sang Pemberi Kehidupan. Buktinya beberapa tahun kemudian bruder-bruder pribumi makin bertambah, hingga tahun 2012 berjumlah 54 bruder dan 5 novis.

Menjadi Kongregasi Mandiri

Dengan mengalami jatuh bangun kongregasi ini kemudian menapaki hidup baru dengan memisahkan diri dari Biara induk di Oudenbosch-Belanda. Setelah melalui discernment yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya CSA Indonesia menyatakan mandiri dengan Dekrit dari Tahta Suci tertanggal 25 November 1999. Sejak saat itu CSA Indonesia berstatus keuskupan tidak lagi kepausan dan berada di bawah reksa Keuskupan Agung Semarang.

Dengan berstatus kongregasi mandiri tentu membawa konsekuensi tersendiri. Salah satunya adalah soal kemandirian finansial. Mampukah anak dari kongregasi ini menanggungseluruh biaya hidup dan karya setelah memisahkan diri dari biara induk? Bak anak ayam yang mulai melepaskan diri dari rasa aman dan mapan karena dekat dari sang induk, maka kini tibalah saaatnya bagi anak ayam itu mulai mengais mencari makanannya sendiri untuk tetap bisa survive. Gusti mboten sare, maka IA akan selalu menuntun dan menjaga hidup umat yang dipilih-Nya. Dalam peziarahan hidup kongregasi selalu ada rahmat tersembunyi dari-NYA. Rahmat tersembunyi itulah yang selalu memberi pengharapan dan peneguhan untuk tetap setia. Bersama semangat dan teladan hidup Santo Aloysius Gonzaga, pelindung kongregasi, kiranya para bruder juga dimampukan untuk memurnikan hati dalam mengabdi Tuhan, karena DIA yang memulai, DIA pula yang akan turut menyelesaikan seluruh mimpi kongregasi Bruder St. Aloysius dari Semarang ini.

VISI MISI

VISI  CSA
Terwujudnya Pendidik iman Kristiani, yang unggul dalam iman dan kepribadian, dijiwai salib Kristus, dilandasi semangat Persaudaraan Kasih dan Damai,   mandiri menjadi aktor perubahan bagi pembinaan kaum muda.

MISI  CSA
  1. Menyelenggarakan formasio untuk pembentukan  kader menjadi pendidik iman yang bersemangat PKD.
  2. Mendidik kaum muda menjadi kader penggerak sosial yang beriman tangguh, kredibel mandiri dan peka.
  3. Membangun jejaring dan bekerjasama dalam menjawab panggilan Tuhan melalui kebutuhan jaman
  4. Mengelola aset demi bertumbuhnya kemandirian dan kelestarian karya pelayanan.